Hello, My name is Gilang Novanda. You can follow me on my twitter @gilangnovanda, Cheerrsss :D

Senin, 06 Februari 2012

tips jomblo

Kosong...
Ada ruang kosong dalam hati. Meski terisi sebagian orang orang terkasih kita tetap saja ada yang kosong, pada tuhan,teman, keluarga, ilmu, harapan, ilmu, cita-cita dan lain lain. Tidak lain dan tidak bukan ruang kosong itu tidak adanya cinta dari lawan jenis. Para rekan jomlo holic pasti ngegibeg. Kalem aja ga usah kesindir.
 Saya tau saya tau pasti didalam doa kalian mengharapkan sesosok peri kecil yang menghiasi hidup. Meski bisa menebak, bukan berarti saya dukun.
Mau nyari susah, kalo mau nunggu lama. Serba salah coy. Ya bukan nggak laku, tapi teu payu lah kalo bisa disebut.
Satu-satunya cara ya emang harus sabar. Kalo belum dipertemukan ya gimana lagi. Mau maksa kawin sama sapi? Oh, nehi lah jangan sampai prustasi seperti itu.
Berarti itu tandanya belum bisa mencintai diri sendiri. Cintailah dirimu sendiri baru cinta akan datang hehe
Catet itu para jomblo holic, catet!
Secara gitu ya kalo pribadi udah bener-bener keurus lawan jenis mana yang nggak ngelirik. “Eh, liat deh dia unyu beud.”
Plis stop! Jangan menghayal berlebihan! kata-kata itu hanya untuk menghibur saja bukan untuk membuat mabuk kemudian melakukan manstubrasi.
Namun perlu diingat para jomblo holic, anda lebih baik ketimbang orang yang maksa mencintai orang dengan asal. Gak pake otak dan lain-lain. Yang rujit kan kita-kita juga. Misalkan pagi-pagi yang emang indah  gitu nggak ada hutang, tagihan dan kecoa. Hmmmp benar-benar indah. Mau liat jejaring sosial, ada orang baru puber update status yang bikin pagi jadi enek.
Liat foto profile orang berdua cium-ciuman. 
‘duch matahariku udah bangun belum ya? Aku ingin mengirim malaikat supaya dia tau aku tersenyum ketika dia membuka mata.’
Dan parahnya itu cowok. Arrrrgh iyaks banget. Lima menit berselang komentar udah 54 diisi mereka berdua. Kalau Cuma berdua kenapa nggak sms aja?
Tapi pas diliat itu status saya sendiri. Maaf ya pemirsa. Muuv banget.
Disini bukan tanpa alasan jodoh belum dipertemukan. Ada sebabnya juga. Dari penelitian yang saya lakukan, saya menemukan beberapa penyebab kejombloan. Salah satu penyebabnya adalah muluk-muluk, ada satu adegan dimana saya harus berbincang-bincang dengan orang tersebut. Dia ingin mendapatkan body yang kayak gitar spanyol padahal body-nya sendiri nggak jauh beda sama gitar punk rock jalanan.
 
Bukan rasis ya tapi ini Cuma ibarat doang.
Ngobrol lagi asik-asiknya dengan temen saya yang jomblonya sudah akut, ditengah pembicaraan dia beralih topik karena melihat cewek didepannya yang cantik banget.
“Selera saya Cuma itu. Dan nggak mau sama cewek yang lainnya.”
 
Ini hanya contoh.
Lalu Cewek yang dia mau Cuma personil SNSD. 


Saya berani taruhan 15 jutaan hok. Berani deal ga?
Masalahnya ceweknya mau kagak? Disini kelihatan mengapa dia jomblo. Cara menghindari penyebab seperti ini gampang cukup membeli kaca. Dan pakai sesering-seringnya. Alhasil penyebab seperti ini dapat dihindari.
Untuk menambah daya tapik juga boleh kok mempercantik diri agar anda lebih menarik.
 
Dan bukan itu saja ya insan muda, pola pikir kita juga berpengaruh terhadap kejombloan kita. Waktu itu saya masih salah gaul, saat saya menganggap keren sama seperti pandangan saya menganggap kampring sekarang. Waktu itu saya dipertemukan dengan jomblo veteran. Orangnya lusuh, kerjaannya tau apa? Main tendo berjam-jam. Mending game-nya rame ini mah nggak bergengsi. Game Biliar yang nggak pernah diobrolin waktu kecil. Sepertinya dia puas dengan apa yang diraihnya ketika main game biliar itu, padahal kan nggak dapet apa-apa. Kalo ngomongin game Biliard itu selalu serius kayak yang edun.
“gini ya caranya.” Sang pujangga itu menerangkan di depan cewek yang dia suka. Nggak lupa dia memasang wajah gantengnya. Tapi sayang gantengnya Cuma mentok segitu.
Tau gimana responnya?
Dicuekin laaah...
Sedih lagi akhirnya kan.
Dari kesalahan-kesalahan yang terfatal adalah ketika anda tidak bertindak dan tidak melakukan sesuatu yang tepat. Ibaratnya ini adalah permainan bola dan musuh mampu mencetak gol di injury time. Ibarat sumur DALEEEM!!!
Saat seorang cewek dan cowok sinyal cintanya sudah terhubung dalam waktu yang cukup lama. Ada kesalahan ketika anda tidak bertindak dengan menembak. Keduanya saling menunggu dan akhirnya diselip orang. Itu memang sangat menjengkelkan. Pasti calon pasangan kita itu akan beralasan sama, “Aku kira kamu Cuma bercanda”, “aku kira kamu nggak serius.”,”aku terlalu lama menunggu. Nggak kuat lagi.”
Pasti handeeul.
Masalahnya tidak menendang bola padahal gawang sudah di depan mata. Dan keburu lawan datang menghadang.
Cewek sudah nunggu ditembak tapi si cowok malah kalem aja. Taunya diselip sama ninja rr. Dan ujung-ujungnya matiin lampu dengerin lagu dadali band. Menyendiri lagi-menyendiri lagi.
Kalau emang cinta udah di depan mata gubris aja langsung jangan banyak maen game biliard.
Untuk para jomblo holic, meski sedang mencari, harus rada menyaring pasangan, jangan pernah salah pilih pasangan. 
Saat menghadap belakang begitu cantik.
 

Namun saat berbalik anda jangan kaget siapa pasangan anda sebenarnya. Karena saat masa-masa indah banyak yang ditutup-tutupi.

Jaga citra anda, jangan sembrawung nembongin kebiasaan buruk anda pada target. Misalnya ngupil di depan dia yang lagi makan. Atau ngurik-ngurik kuping terus yang kuningnya dicium. Don’t !!!
Satu lagi, berbuat baik lah untuk pasangan anda, banyak mengalah, kelihatannya kita yang lemah tapi sebenernya dia yang mengikuti permainanan kita HAHAHHAHAHHAHA...
Tapi TIPS YANG PALING JITU itu adalah bagaimana anda menarik pasangan anda dengan cara anda. Itu!!! Jangan pake teori. Karena anda memiliki sisi istimewa tersendiri.

Read More/Selengkapnya...

Sabtu, 21 Januari 2012

life like a good panorama



oh, hidup. Mengapa ada kehidupan di dunia ini? Kalimat ini cenderung ditanyakan saat seseorang menemui rintangan yang dirasa sulit untuk dihadapinya. Mulai merasa lelah dan frustasi harus berbuat apa dengan semua yang dihadapinya. Entah apa awalnya yang menyeret saya ke obrolan  waktu itu. Ketika kehidupan dipertanyakan.
“hidup maneh mah sedih wae.” Satu kalimat yang ditunjukan pada saya.
Saya senyum. Terbesit di kepala saya sebuah pertanyaan umum, Kenapa orang lain mudah menilai sesuatu hanya dengan kasat mata? Padahal tampilan kan tak selalu menjamin keadaan seseorang. Seperti orang berdasi yang enak dilihat namun kerjanya korupsi. Atau melihat komunitas punk muslim.
Bukan sedih, tapi saya hanya pengen diam. Diam pun bukan karena saya buang aer di celana. Rasanya ingin menikmati segelas teh hangat dengan tembakau diselimuti kertas berukuran A4. Entah berapa ukurannya sebenarnya. Saya nggak bawa penggaris. Untuk kesekian kalinya saya memang terlihat seperti orang stress. Sama seperti saat ini.
“ini kan ramadhan.” Tambahnya.
“memang apa yang bikin ramadhan menyenangkan?” padahal saya tau ibadah saya lebih getol darinya. Tapi dia yang sepertinya lebih bahagia. Suatu waktu pertanyaan pun muncul melibatkan keadaan seperti ini. Tentang agama. Wilayah yang sebenarnya nggak bisa benar-benar dikuasai selain nabi. Muncul pertanyaan, jika seseorang sudah menjalani agama dengan baik, tapi tetap mendapatkan derita dan merasa tak adil jika orang lain yang tak tahu agama medapatkan kebahagiaan.
Iya, ya? Kenapa kalau kita getol ibadah belum tentu mendapatkan apa yang kita ingin kan. Bukannya Tuhan maha kaya? Sedangkan melihat orang yang bejad mudah untuk mendapatkan apa yang dia mau.
Saya tersadarkan kalau saya juga manusia sama seperti yang lain.
Ini lah ciri khas manusia, selalu melihat hanya dengan kasat mata, padahal tak selalu derita itu merupakan wujud yang sangat buruk. Mungkin hal itu lah yang mengajari kita tentang apa itu arti kata sabar dan arti kata sejati yang membawa kita ke tujuan yang mulia.
“saya mah sih selalu bahagia. Apalagi ngeliat kamu sedih.”
Teh hangat yang di dalam mulut nyembur sedikit gara-gara nahan ketawa.
“haha. Benget maneh goreng patut.”
Setelah menelan teh, saya merapihkan noda teh berantakan di sekirat mulut. Pake tisu.
“bagi saya ramadhan ini sama aja dengan hari-hari yang lain. Malam tetep aja gelap, siang tetep aja terang. Hok! Apa bedanya ramadhan dengan bulan-bulan yang lain?” kata saya coba memainkan filsafat yang menurut saya seperti itu. Karena bermacam-macam definisinya. Dan katanya lagi filsafat dilarang oleh agama. Filsafat memprioritaskan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.
Dulu, saat baru lulus sekolah, cita-cita saya ingin memasuki ilmu filsafat di Universitas negri. Saya lihat di brosur yang menjelaskan tentang ilmnu itu, Pelajarannya unik, Merenung. Apa daya, saya terlalu ganteng untuk masuk jurusan itu. Tapi alhamdulilah, Universitas yang kini saya duduki lebih dari ITB. Maksudnya lebih jauh. Udah nyampe ITB Bablas terus sampai patiukur.
“beda atuh.hehe” jawabnya singkat. Saya juga ga tau kenapa. Kenapa ya? Memang berkali-kali menanyakan seperti ini, ada juga yang bisa jawab, tapi ngaco.
Berarti benar, Dalam Al-quran, ada ayat tentang pengetahuan yang tak akan bisa diketahui manusia. Dan manusia mengklaim telah menemukan jawaban. <Ali imran ayat 3>.
Faktanya Memang berbeda rasanya beda jika sedang Ramadhan. Lebih damai dan bahagia. Karena saya meyakininya. Dan itu saya rasa cukup untuk memberi jawabannya.
“kata kamu tuhan maha adil? Kenapa banyak penjahat yang sukses?” tanyanya. Saya bingung. Dalam obrolan ini saya selalu membela tuhan.
“itu semua atas ijin tuhan. Itu yang namanya ujian.”
“kenapa tuhan mengijinkan orang itu jadi jahat?”
“bukanya orang udah dikasih otak sama agama? Kenapa orang itu lari dari itu? Itu nggak bisa nyalahin tuhan. Itu keputusan dia sendiri. Mungkin prustasi dengan cara yang baik.”
Seperti dalam buku yang saya baca, yang benar itu lebih sulit dari pada melakukan yang salah. Seperti membuat SIM yang benar. Penuh dengan ujian. Kalau jalan salah tak perlu melewati ujian.
Pertanyaan untuk mementokan otak saya berakhir. Saya berhasil membela diri dalam perdebatan yang GEJE ABIZZ.
Namun itu mengingatkan saya kembali tentang keraguan keberadaan tuhan dengan memunculkan pertanyaan-pertanyaan extreme. Ya, dari seperti itu. Kebahagiaan yang didapat tanpa ibadah. Ketika hati merasa tak adil atas apa yang diberikan tuhan.
Dan sebenarnya pertanyaan yang seperti itu tak sesimple itu munculnya. Butuh beberapa fenomena dan fakta-fakta di sekeliling yang berbelit-belit.
Jika ada seseorang bisa menemukan jawaban itu, mereka lah yang atheis. Namun saya tak bisa menjawabnya. Karena bagi saya tuhan adalah segala-galanya. Mungkin kalau tuhan memiliki sifat seperti saya, beliau akan benar-benar menghabisi saya sebagai hambanya karena terlalu banyak berlumuran dosa.
Mencari asal-usul nabi dan agama. Apakah agamaku benar?
Ah, ini memunculkan lagi pertanyaan yang sepertinya tak ada ujungnya jika tentang agama.
Saya mencari… mencari… dan ketiduran.
Tapi saya mendapat sedikit garis besar. Nabi musa a.s, nabi isa a.s, dan nabi Muhammad SAW. Itu. Cari sendiri aja apa perbedaannya! (kalo emang tertarik). Ah (Aing cape mun kudu nerangkeun. Jeung barina oge kaluar jalur. Jeung can tangtu bener).
Modernisasi memang membuat saya harus banyak bertanya tentang agama karena sadar tak sadar itu luntur. Meski banyak yang mengaku memiliki agama namun… yah, begitulah.
^_^
Popular, harta, ilmu terkadang kita sama sekali tak sadar sangat ambisius mendapatkan itu untuk mencapai yang namanya kesempurnaan. Khilaf memang terkadang tak bisa dihindari. Itu semua manusiawi. Dan saya mahasiswa.
Saya teringat lagi ketika saya memang ingin sempurna. Namun sadarlah. Itu bodoh! Ketika saya bahagia, saya ingin merasa lebih lagi dan akhirnya saya melakukan yang lebih, namun itu semua malah mengurangi. Sampai saya tak merasa bahagia seperti dulu.
“Iya ya ramean dulu.” Saya sering mendengar kata itu dari mulut yang berbeda. Ternyata banyak juga yang seperti saya.
Teman saya di kuliah bilang, “This is real life.” Ketika saya mengeluh. Yang memang banyak hambatannya.
Kembali lagi tentang kesempurnaan. Memang apa arti dari sempurna? Tanya saja pada Andra and theblackbone. Saya mah belum pernah ketemu.
Sempurna itu banyak yang menganggapnya sesuatu yang tanpa cacat dan baik sebaik-baiknya. Namun jika sempurna itu baik, kenapa manusia dianggap tuhan lebih sempurna ketimbang malaikat?
Kesempurnaan itu sebenarnya manusia, jadi apa perlu mencari lagi?(walau pun manusia punya sifat dasar yang nggak pernah puas) Tapi ini juga bukan berarti harus diam terus-menerus.
Jadi tak ada yang salah dalam manusia. Karena benar itu tak selalu benar dan yang salah tak selalu salah. Satu-satunya yang salah itu adalah TAKUT SALAH. Kebanyakan hasil itu dinilai  dengan mayoritas dan minoritas, banyaknya penilaian dari jawaban tersebut. Jika menjawab A dan orang-orang menjawab A, berarti jawaban itu dianggap benar atas dasar orang lain juga menjawab A. apalagi orang awam yang kerjannya ikut-ikutan.
Tapi manusia tak ada yang selalu benar terkadang jawaban minoritas lah yang benar. Namun tak digubris.
Jika hukumnya seperti ini, adalah tugas minoritas meyakinkan mayoritas atas jawabannya. Banyakan mana orang sukses sama gagal (sukses dalam artian umum)? Memang jika ada objek yang bergerak maka banyak lah yang berkomentar. Jadi jika anda banyak dikomentari, bayangkan saja anda adalah objek yang menuju suksesnya.
Riwayat Al-bukhari pun bilang, barang siapa Allah inginkan kebaikan untuknya, maka Allah akan mengujinya dengan kesusahan.
Bagi saya hidup merupakan gabungan dari dua kata yaitu hi=pro dan dup=kontra. Kadang kita pernah bertujuan supaya semua yang ada di dunia ini menjadi pro pada kita. Pro tak mungkin menemenuhi hidup kita. Nabi pun banyak yang kontra. Siapa yang dapat mengubah? Jika seseorang itu dapat mewujudkan semuanya menjadi pro, berarti itu namanya hihi. Bukan hidup. Dan sebaliknya jika semua kontra akan menjadi dupdup. Bukan hidup.
Ya saya bebas lah bikin arti. Kaya psikater yang memang hanya manusia biasa.
Dan entah apa yang ada di pikiran orang yang merasa hebat berkomentar tentang saya yang cupu ini. 
Hidup buat apa? Sambil nunggu waktu kojor, nimbun barang dan sanjungan orang lain aja gitu?
Menurut buku yang saya baca, lawan kata dari hidup bukanlah mati. Lawan kata dari mati adalah lahir. Karena sebelum lahir di dunia manusia sudah hidup di alam rahim dan ketika meninggal dunia manusia tetap hidup di dunia akhirat.
Dan baru tersadarkan lagi kalau tugas manusia itu beribadah kepada Allah. Yah, kalau ngomongin ini memang kesannya tua. Tapi itu kan jawaban mayoritas…

Jika ilmu terlalu banyak diperoleh dapat membuat orang tersebut melupakan tuhan karena kesombongannya. Tapi orang yang ingin terlihat pintar malah gampang dibodohi. Mental juga tak boleh dikesampingkan.
Mungkin karena itu agama menuntun umatnya, dari buku IK, agama itu diambil dari kata a=tidak, gama=kacau. Agar tidak kacau, manusia diberi agama. Tapi malah kebanyakan orang ingin mengambil makna sendiri dalam hidupnya. Keluar dari aturan. Termasuk saya.
Orang yang punya agama itu harus rendah hati.
Kadang-kadang ketika tersadar semua sudah terwujud. Selalu ada yang kurang. Apa itu? sudah bergerak tapi kenapa hidup itu nggak maju-maju. Kadang apa yang kita inginkan lalu berusaha meraihnya, dan akhirnya tercapai, tak merasakan apa-apa. Lalu mengambil bahagia yang semu untuk menutupi ingatan tentang perjuangan itu.
Ketika lem dihisap, apa pengaruhnya? Kenapa ga sekalian lubang hidungnya ditempelin lem yang dasarnya nempel jadi tercium terus-menerus. Tapi kenapa ga ada yang suka nyium bau lubang pantat padahal wanginya sama sama gak enak?
Ada satu hal yang kurang dimengerti. Hal yang seakan mendorong maju namun terasa berat. Tentang mereka. Ada beberapa yang sejati namun ada juga yang palsu. Amarah yang meledak dalam hati kian merusak dada. Namun itu lebih baik daripada emosi itu keluar lalu merusak yang lain. Seperti kata Pak Mario, kesakitan yang diberikan orang terkasih adalah sebuah kemuliaan jiwa.
Tak mungkin ada asap kalu tak ada api. Tak mungkin ada bau jika tak ada yang busiat hehe
Saya coba merenung mungkin ini sebuah karma dari suatu kebodohan. Menceramahi itu lebih mudah daripada menjalankan apa yang diceramahi oleh diri sendiri pada orang lain.
Kini saya mulai meninggalkan, maju untuk hal yang lebih baik. Bukan karena benci, namun karena pandangan sebelah mata jika saya tak mengajak. Mungkin akan sibuk membuat percaya daripada maju. Saya hanya tak ingin yang lain susah. Meski banyak juga cibiran yang nggak bisa dihindari. Namun positif thingking adalah kuncinya.
Keterpurukan ini adalah teguran nyata kehidupan. Mungkin sikap berubah-ubah namun saya berharap kau selalu sejati. Tak selamanya saya selalu memberi candaan yang menjadi pandangan orang selama ini.
Satu kunci adalah senyum dan nikmatilah. Ambil jalanmu. Memang berat jika takdir kita jalan tak dengan orang terkasih namun ini tugas khalifah di bumi. Percayalah tuhan tak pernah menzolimi umatnya. Seperti ramadhan yang  dirasa lebih damai.
Ikhlas adalah kata sederhana yang benar-benar bermakna tapi begitu sulit diterapkan.
Niat baik adalah awal.
“Yang penting mah niat!” kata temen saya yang lain. Jika seperti itu, niat baik akan secara natural menciptakan tuntutan hasil yang baik pula. Dan jika hasilnya tak baik akan menciptakan kesakitan.
Itu bertanda niat bukan segala-galanya. Tapi diselaraskan dengan cara. Dan ikhlas adalah bantal jika dua hal itu bertemu dengan benturan-benturan dan mendaji air ketika jiwa terbakar melihat hasilnya berantakan.
Memang tahu lah rasa pilu itu seperti apa. Melebihi sedih. Tapi berhenti bukan pilihan. Istirahat lah jangan pikirkan yang lain-lain. Lepaskan. Semua orang juga merasakan pilu. Mungkin hanya orang lebay yang membeberkan semua itu. Tapi jika memang itu membuat anda lepas, lakukan lah.
Lihat apa yang sudah anda kerjakan selama ini. Sayang kalau berhenti.
Menyertah itu bukan pilihan.
Dunia ini begitu luas. 1 kejadian nggak penting pun punya banyak dimensi, Sob. Pasti memiliki banyak makna.
Kehinaan dalam kebaikan adalah sebuah garis hitam yang tergambar dalam kanvas putih kehidupan. Jika tak ada warna hitam dikehidupan itu, percayalah, gambar itu tidak akan terlihat indah. Bahkan cangcut pink pun akan lebih indah jika ada warna rambut hitam yang keriting.
Dan ketika meninggal dunia kita sadar kalau hidup itu seperti panorama indah yang tak hanya dilihat, tapi dirasakan juga.
 
Hidup itu seperti pemandangan indah !

Read More/Selengkapnya...

Jumat, 23 Desember 2011

ati atau mati?

Pagi-pagi bisa dikatakan waktu yang sempurna untuk tidur. Udaranya yang masih sejuk, adem, meminta saya untuk mengeratkan slimut yang belum dicuci setahun. Selain itu entah kenapa sinyal selalu panteng (asli, bukan yang lain). Saya baru tidur dua jam lalu karena semalaman saya nggak bisa tidur. Karena kebiasaan dan memang enak aja bisa buka web site bebas karena udah pada tidur. Masksudnya web lagu dan lain-lain gitu.
Tapi ahhh. apa mau dikata, moment ini dirusak Mamih.
“beliin cengek ke warung sebentar!”
Saya pun bertanya-tanya. Apa hari ini hari cengek sedunia? Saya melihat kalender. Nggak merah. Nice!!! Cuma di sini tidur pria tampan terganggu cengek. Slimut tebal dan sofa ini seperti tumor yang ngak bisa di pisahkan. Susah sekali.
Karena saya nggak mau disebut anak durhaka, saya memenuhi perintahnya dan menjauhi larangannya. Dengan mata terkantuk-kantuk dan hati nggak ikhlas membuat perjalanan saya ke warung begitu berat. Sangat berat.
Ibu-ibu yang berpas-pasan dengan saya di warung pada sibuk ngobrolin sinetron sama reality show. Saya diam dan denger dikit dikit pembicaraan ibu-ibu yang ngoborin sinetron yang berjudul, Anakku Bukan Anakmu, “Eh, si Rangga itu sebenernya diaku anak nggak sih? Saya suka kasian ngeliatnya.”
Ternyata ibu-ibu itu nggak up date, lebih tau saya tentang sinetron itu. Dikisahkan saat itu pada episode lima ratus empat puluh tiga koma Sembilan, bahwa rangga itu sebenarnya bukan anakku karena rangga hanya seekor domba. Saya memang nggak begitu mengerti karena waktu itu TV saya lagi bures.
Kan nggak level gitu ya kalau ngumpul bareng ibu-ibu, saya pun mencari teman sebaya yang ada di warung untuk ngobrolin Naruto atau Doraemon. Tapi sayangnya nggak ada. Cuma saya lelaki tulen di sini.
Setelah menemukan cengek dan nggak menemukan obrolan Naruto, saya kembali pulang dan membawa uang kembalian.
“Nih, Mih.” Saya memberikan cengek titipanya. Dan memasukan uang kembalian ke saku saya.
“Mana kembaliannya?” Tagih Mamih. Ternyata Mamih lebih jeli dalam urusan uang.
“Mah, cuman 200.”
“ah, ga bisa.”
TIDAKKKKK. Saya galau nggak mendapatkan uang kembalian. Dalam asa yang sirna, saya menemukan sesuatu di katel kompor yang bikin saya ngacai. Itu adalah tai ayam. Eh, maksudnya Ati ayam, salah satu makanan kesukaan saya dari seribu makanan yang saya sukai.
Saya suka ati ayam, apalagi daging ayam yang bagian atinya. Tapi lebih lezat ati ayam nya deh. Uh mantap.
Saya ngambil Ati itu tanpa basa-basi. Mamih yang ngeliat tindakan saya langsung nangkis tangan saya “Ciat!!!” teriak Mamih.
Tangan saya menjauh sejauh mungkin dari ati itu. Takutnya ati itu utusan dewa.
“Buat Kakek!” kalem Mamih.
Oh Cuma buat Kakek. Reaksi Mamih alay.
“Itu ati yang kapan, Mih?”
“Yang kemarin.”
Saya bertanya-tanya dalem hati, apa nggak basi? Mungkin nggak. Tapi saya berdoa supaya Kakek menolak ati yang dikasih Mamih. Dan kemudian atinya dikasih saya.
Semoga saja.
Terbayang jika ati itu jatuh dalam kunyahan mulut saya yang diincar banyak wanita. Gress… gress… nyam… nyam… dengan bumbu buatan Mamih yang biasanya selalu mantap. Duh serasa jadi bintang iklan. Kalau makan ati, Saya selalu sengaja menyisakannya di gigi. Menyisakan untuk teman-teman. Kali aja ada yang mau.
Sambil menunggu keputusan Kakek yang masih tidur, saya juga ikut tidur. Duet bobo bareng Kakek. Bisa aja kan kalau ketemu di mimpi ngobrol dan main kartu bareng.
                                                                        ^^^^^^^^^^
“Bangun! Udah magrib! Pamali.” Mamih membangungkanku.
Saya ngeliat jam. Gila! Saya pingsan atau tidur? Sebenernya tadi siang saya sempet bangun dan menonton tv beberapa jam, tapi kemudian tidur lagi dan terbangun sekarang.
Ada sebuah penyesalan. Saya melewatkan tayangan Sinetron. Episode 325. Jangan terjadi lagi. 
Hari ini adalah hari rabu. Bukan hari rabu biasa karena hari ini ada jadwal futsal. Sudah barang tentu futsal itu hobi saya. Kata tukang parkir yang biasa jaga di tempat futsal, saya berbakat bermain futsal kalau membayar uang parkir dua kali lipat. Saya selalu membayar dua kali lipat uang parkir untuk menambah tehnik main futsal. Katanya lagi, Lionel Messi itu hebat karena bayak parkir dua kali lipat.
Setelah di lapangan.
 “Mundur!” saya dimarahin Kapten pas main futsal. Setelah mengangguk dongo, Saya mengikuti perintahnya dan menjauhi larangannya.
“Maju!” saya dimarahin lagi sama Kapten. Katanya disuruh mundur. Udah mundur disuruh maju. Saya jadi serba salah.
“Da, keluar!”
saya menangis. Sakit hati gara-gara tukang parkir itu bohong.
Memang hari ini saya nggak layak main futsal di sini. Mungkin karena bolanya terlalu bundar. Eh, bola kan emang bundar. Berarti saya yang terlalu bodoh memainkan bola. Tapi biasanya nggak gini kok. Tolong aku tukang parkir.
Harusnya saya membaca buku fisika dulu supaya tau bentuk bola yang sesungguhnya. Jadi saya bisa menguasai bola dengan baik. Yeah! Ah, tapi buku itu sudah hilang di telan air hujan.
Saya yang memang sudah nggak kuat lagi untuk meneruskan futsal, langsung pulang ke rumah. Di rumah pun saya Cuma ganti baju dan cuci kaki. Bukanya jorok atau apa, kan nggak bagus kalau mandi tengah malem. Bisa-bisa dikira mandi untuk minta pusaka si Mbah.
Sambil istirahat saya menonton acara di tv. Saking lagi enak posisi saya nggak sadar kalau waktu sudah terlewati dua jam. Pantat saya sampai tapakan. Sebelah pantat saya berwarna merah marun.
Perut berbunyi tanda cacing udah demo minta makan. Saya juga baru sadar kalau perut belum diisi apa-apa dari pagi. Saya mencari sesuatu di dapur. Semoga aja ada secuil nasi dan setetes kuah bakso.
Saya mencari dan terus mencari, tapi percuma. Nggak akan ada makanan di sini. Hanya ada bawang putih. Itu juga buat ngusir vampire. Bukan buat makan.
Jika saya langung tidur, saya takut disebut manusia biadab sama tetangga gara-gara menelantarkan cacing di perut yang nggak punya bapak. Saya tertunduk lesu sambil megangin perut. Begini lah pengangguran. Kalau saja saya punya uang untuk membeli makanan di luar. Pasti nggak akan begini ceritannya. Bakalan selalu bahagia sentosa dan sejahtera.
Sebelum meninggalkan dapur, saya mendapat ilham, dengan sendirinya mata melihat panci yang ditutup. Saya menghampiri panci itu sambil berdoa ada sesuatu di dalamnya.
Sampai saya mengangkat tutup panci itu. Yes… akhirnya ada makanan di dalamnya. Bukan makanan biasa, itu adalah ati ayam. Saya senang dan merayakannya dengan sedikit nari india. Ternyata Kakek lebih senang kalau saya yang memakan ati itu.
Nggak banyak lama saya mengambil ati ayam yang tergeletak pasrah di panci. Tapi saya merasa ada hal yang nggak beres. Ada bercak-bercak warna putih di badan ati. Saya menciumnya, baunya sedikit berbeda. Rada asem. Awalnya saya kira itu bau ketek, tapi setelah diselidiki itu bau ati ayam.
Saya mempertimbangkan untuk memakannya. Seakan ada dua sosok memberi tahu  yang saling bertolak di sebelah saya. Di sebelah kiri warna merah dan sebelah kanan warna putih.
Dari sebelah kiri berkata,
“Ayo makan aja atinya. Nggak apa-apa kok. Itu kan Cuma mau basi bukan udah basi.”
Tapi di sebelah kanan berkata lain,
“Ayo makan aja atinya. Dari pada kelaparan.” Tapi maknanya sama aja.
Kok ngasih taunya sama ya? Biasanya kan kiri setan, kanan malaikat. Tapi kok pendapatnya sama. Pas aku ngeliat kesebelah kanan kiri ternyata kuntilanak pake baju merah sama putih. Pantes aja ngasih solusinya nggak bener. Tapi itu hanya sugesti bodoh saya. Sori kebanyakan nonton film hantu Indonesia.
Badan terus berdiri terdiam di tempat memikirkan sesuatu. Saya hanya punya dua opsi. Mati kelaparan… atau mati keracunan? Dua-duanya kacau. Yang pasti saya nggak mau mati.
Atas nama cacing yang nggak punya bapak, saya memakan ati ayam itu.
“Grrrgrrrr…. Kaing…kaing… grrrrr…” saya makan dengan rapih. Dan akhirnya ati itu ludes termakan.
Ternyata nggak apa-apa. Saya masih kuat dan rupawan. Ternyata itu Cuma perasaan saya saja.
Kemudian saya terdidur.  Tapi jam lima subuh saya sudah terbangun lagi.
“Aduh…” saya menggeram. Perut saya melilit. Bunyi, brot brat bret brot. Kenapa ini? Perut saya nyanyi.
Oh, ternyata gara-gara ati semalem. Saya jadi tidur sebentar. Megangin perut sambil jalan ke wc. buang aer terus-terus. Keluar banyak. BROOOOOTTTT.
Untungnya kesakitan itu hanya sementara. Saya bisa tidur lagi dengan nggak nyenyak.
Mungkin kemudian hari saya harus meninggalkan kebiasaan makan ati ayam dan mempertimbangkan untuk memakan tai ayam.

Read More/Selengkapnya...

Rabu, 21 September 2011

piss ah hut

Lamaran sudah selesai, tinggal menyebarkannya. Lamaran ini special dari yang lain. Lebih menarik dan lebih jrek nong. Pasti lamaran saya bakalan dilirik Manager yang rindu akan pelamar yang mempesona. Kalau lamaran saya ditolak bisa keneh jadi penganjel pintu.
Kalau saya berhasil kerja saya nggak akan lagi minta uang ke Mamih. Rasanya bangga kalau saya mengipaskan uang di depan orang-orang.
“Hasil kerja gitu loh.” Sambil bilang gitu. Hahahah aing tea atuh anying.
Entah saya begitu takabur waktu itu.
Gajinya UMR. Sangat lebih buat orang yang jarang pegang uang kayak saya. saya bisa jadi miliarder dong?
Ia. Kalau saya lembur 50 tahun ga pulang pulang. Mungkin orang-orang bakalan nyebut saya the new bang toyib.
Istigfar versi saya kalo lagi ngadat:
“Sabodo anj*ng. Sabodo *njing. Sabodo anjin*.”
Saat hari tes kerja. Saya bangun pagi-pagi sekali. Jam 9. Kata saya jam segitu masih subuh. Tes calon karyawan dimulai jam satu siang.
Di tempat parkir saya celengak celenguk ngeliat banyak orang yang mengadu nasib di sini. Menggantungkan uang jajan dan nasibnya pada subuah pizza yang nggak begitu enak kalo udah tercampur tai kuda.
Yaaa… saya emang lebih suka makan bakpao. Apa lagi disuapin Asmirandah pake BH doang.
Semua calon pegawai pun memasuki ruangan. Awalnya saya biasa biasa aja. Tapi saya jadi ngerasa geli ngeliat pelamar yang pake baju Barcelona. Sempet mikir juga bakalan di tes futsal gara-gara pria itu. Saya nggak ngeliat orang yang pake baju renang.
Saya duduk bersama dua orang teman yang baru kenalan di bangku paling belakang. Sebut saja Upin dan Ipin.
“Duh, liat  itu cewek kayak di saritem.” Reaksi Ipin setelah melihat wanita yang lumayan. Orang memang bebas berkomentar. Tapi kenapa harus dikaitkan dengan lokalisasi? Dasar kemle.
Tes pertama dimulai. tes tinggi.
Saya lulus. Mengingat saya juga pernah jadi model cover TTS yang di jualnya di KRD. Pihak dari sana meminimalkan tinggi 165cm bagi cowok. Tinggi badan memang perlu di bidang pelayanan ini.
Teman saya yang berdua itu lolos. Namun ada beberapa orang yang nggak nggak lolos. Mereka pun pergi dari ruangan ini sambil tertunduk. Mungkin tertunduk gara-gara sletingnya kebuka. Tapi ada juga yang pergi dengan riang gembira. Dia adalah yang mau maen futsal.
Tes kedua. Tes psikotes. Memang nggak sesusah tes bahasa china. Tapi sangat berpengaruh dan nggak boleh asal-asalan kayak ngisi soal TTS gambar cewek pake kacamata dengan gaya kung fu. Saya harus serius dan konstrasi.
Kami diberi waktu 15 menit untuk menjawab soal itu. Saya membaca soal itu. Mengerutkan jidat. Mengambil pulpen dan mengsinya dengan penuh rasa gairah anak muda yang baru berojol ke dunia surge. Kemudian saya ngantuk.
“Oke. Waktu sudah 15 menit berarti sudah selesai. Hasilnya di tunggu satu jam lagi. Jadi anda bisa keluar dullu.” Kata dia. Di sebut apa. Atasan mungkin. Iya bener calon atasan. Karena dia yang menyeleksi. Layak tidaknya kami masuk jadi bagian pizza herk.
Saya, upin, dan Ipin pergi ke luar untuk membeli semakok baso. Ya karena baru kenal kami hanya mengobrol biasa. Tapi ujungnya kami bercanda ke arah yang kontroversi. Saya dengan upin berkomentar tentang pizza herk ini.
“Ini teh yang megangnya orang luar negeri. Jadi kalau kita kerja di sini kita itu orang yang nggak nasionalis.” Kata saya ke Ipin.
“Heeh bener! Mendingan beli Bala-bala.” Ipin memang benar benar nasionalis.
Ternyata Ipin sepola pikir dengan saya. Sedangkan Upin hanya tersenyum. Dan Kak Ros entah dimana.
Kami masuk ruangan kembali saat pengumuman lolos ke babak berikutnya.
Sayang seribu sayang Ipin namanya disebut oleh calon atasan. Dia gagal. Sekarang hanya Upin yang saya kenal di sini. Tenang Ipin ini bukan akhir dari dunia. Aku harap kau tak memutuskan urat nadi mu.
Jangan sampai seleksi selanjutnya saya terpisah dengan teman yang satu ini. Bukan nggak mau sendiri, tapi kalo ada temen lebih asik aja gitu. Bisa cerita,curhat sampe nangis. Eh, teu kitu teing ketang.
Saya mununggu tes selanjutnya. Sekaligus tes terakhir. Itu adalah tes Ackting. Memang perlu? Iya. ackting perlu pas pelayan nyambut tamu.
Semua calon pegawai diperlihatkan video demonya. Saya menontonnya sampai selesai. mencoba menyerap apa yang saya lihat meski nggak serame film rambo.
 “Saya yang pertama nyoba” Kata Upin. Dia berani maju pertama. Tanpa canggung dia berhasil menaklukan tes ini. Biar hasil tesnya belum bisa diketahui. Tapi kalo kata saya dia akan berhasil melihat dari kelancarannya menyambut tamu di depan.
Pengunjungnya emang bohong-bohongan. Dari pelamar juga yang acting jadi pengunjung. Aktingnya di depan ruangan diliat sama pelamar juga. Nggak langsung di depan pintu pizza. Dari pelamar, oleh pelamar, untuk pelamar.
Peserta ke dua yang maju tes ketiga adalah saya.
Edan. Malu pemirsa.
“Selamat siang.” Kata saya ke pengunjung booongan. Tidak lupa memberi senyum.
Semua diam.
Hmmmm… ngomong apa lagi? Saya lupa teks.
“Mau makan disini atau dibungkus.” Lanjut saya.
Hahah… ada yang ketawa.
Harusnya yang bener,”mau makan disini atau bawa pulang.”
Maaf! Saya kebanyakan makan diwarteg.
Waktu di depan, pikiran saya terus nahan kalimat, “makan disini atau mau ngutang?” karena yang jadi pengunjungnya terlihat nalangsa.
Di kalimat berikutnya saya ngomong terbata-bata. E-a-e-i. Aduh. Saya merasa kecewa dengan diri sendiri. sampai saya mengakhiri tes terakhir itu.
Ah, saya optimis. Optimis gagal. Saya sadar  bener kalau acting saya acak kadut tadi. Saya sedikit tegang. Berdoa semoga datang keajaiban dari tuhan.
Syelemeselemesmeles. Amien!
Kemudian maju satu per satu pelamar sampai selesai. Melihat mereka yang acting itu saya jadi makin optimis. Optimis gagal! Ackting saya tenggelam dalam acting-acting orang lain yang lebih bagus.
Jangan sampai saya hanya membawa kecewa sepulang ke rumah nanti.
Pelamar pria hanya 3 orang dari kumpulan pelamar cewek. berarti peluang masuk pelayan pria nggak terlalu ketat. Bisa jadi saya masuk.
Menunggu hasil dari tes ke tiga ini nggak selama tes yang kedua. Hanya beberapa menit.
“Yah, sekarang saya akan membacakan siapa yang akan mengikuti training. Buat yang nggak lolos, jangan patah semangat. Buat yang lolos selamat.” Kata yang menyeleksi pelamar.
“Upin.” Disebutnya. Dia langsung girang. Teriak. Kayaknya kalo nggak ada siapa-siapa dia bakalan nari ceya-ceya.
Lalu dibacakan siapa saja yang lolos. nama  saya belum dibacakan. Oh, apa mungkin saya gagal? Nama saya nggak disebut sampai akhir.
Uuuu… saya membuang nafas.
“Eit, tunggu! ada satu lagi yang masuk.”
Saya tegang. Saya ngarep banget dia bakalan nyebut namaku. Tiga kali juga boleh. Supaya lebih mantap.
Saya menunggu. Melihat bibirnya, dan dia mengatakan,
“Marpuah.”
AAAAAAAAAAAAARRRRRGGGGHHHHHHHHH…..
Kenapa bukan saya? Saya seharusnya ketik REG(spasi) Jimat terlebih dahulu. Biar hoki. Pria yang lolos hanya Upin dari sekian banyak pria-pria macho.
Di cerita ini berarti tokoh utamanya bukan saya. Aturannya kan boga lakon/peran utama yang bakalan bahagia endingnya seperti di pilem-pilem india favorit saya. Tokoh utamanya si Upin yang berhasil mengalahkan banyak cowok.
Berarti di cerita ini  saya cuma figuran.
Wassalam,,, happy pizza. Saya akan datang kembali ke sini. Datang sebagai pembeli. Bukan pelamar.
Dan ketika ada pelayan yang membukakan pintu,
“Selamat siang! Dengan saya Upin, mau makan disini atau di bawa pulang?”
Saya akan jawab, “Cieeee… ges gawe si anying.”

Read More/Selengkapnya...

cangcut hero

tulisan 2010


Saya nggak nyangka jadi pengangguran itu BT. Saat masa” sekolah, saya hanya mengharapkan libur dan menganggur di rumah. Ternyata apa yang saya inginkan gak enak. Ingin sekali aku teriak “goblok” pada orang yang suka lupa bayar utang (nggak nyambung). Sebenernya sih saya sudah bekerja. Cuma bosen, Makan sama Tidur doank. Sama begadang juga. Ngopi juga. Main juga. Begitu Flat.
Pengennya sih sambil nunggu masuk kuliah, saya kerja. Ya minimal di perusahaan besar lah. Seperti perusahaan Warung Tegal yang ada di daerah pabrik. Tapi itu mimpi. Peluang masuk tipis ditambah saingan-saingan yang punya keahlian khusus. Saya sangat bersemangat untuk mengisi waktu kosong dengan bekerja.
Suatu hari yang indah saya mendapatkan berita dari teman bahwa ada lowongan kerja. Sebenernya untuk makan Tuhan selalu memberi saya cukup sekapasitas perut yang dari dulu masih di atas kelamin. Tapi ini kan Cuma mau ngisi waktu doank.
Saya kaget dan langsung geleng-geleng kepala saat tau pekerjaannya. Mungkin pergengsian teman saya di bawah normal. Nada bicara yang terdengar tanpa beban apapun dihembuskan dari mulutnya,
“Ngan dagang cangcut hungkul!”
Bagi saya, Cangcut adalah barang unik. Bukan sekedar benda berbentuk segitiga belaka, namun itu merupakan salah satu kemakmuran bagi pehobi barang-barang antik. Ditambah lagi tempat dagangnya itu di tempat rame yang biasa diduduki teman” sekolah saya. Saya takut disuruh makein cangcut buat nenenene.Aduh! no way! Pastinya saya nggak akan ngelayanin. Gimana kalau ada yang minta cariin cangcut gambar Spidermen. Atau lebih parah minta cangcut gambar haji oma. Wah gaswat.
Gimana kalau yang belinya guru yang ngajar saya di sekolah?
“Bu, mau cangcut model gimana?” kan nggak pantes juga kalau saya ngomong gitu ke guru. Apa lagi sampai ngebayangin make cangcutnya. Saya masih belum bisa Profesional.
Yang saya takutkan lagi jika orang lain mengira saya mengejar pendidikan SMA hanya unuk berjualan cangcut. Oh nehi.
Bukan gengsi! Saya nyari kerja kan Cuma untuk ngisi waktu jadi mahasiswa yang belum berisrti dan beranak.
Bujangan gituloh.
Sekarang nggak lagi musim layangan dan saya juga nggak tau sekarang lagi musim apaan. Tapi kayaknya lagi musim kelahi. Soalnya tetangga saya lagi pada musuhan gara” kalah main kelereng. Tetangga saya masih kecil.
Namun saya makin khawatir dengan saku saya yang makin lama makin rata. Takutnya saku saya dekok.
Gimana kalau shoping?
Kumaha sia!
Duit dari mana? Andai saja daki ini berharga.
Malamnya dihari yang sama, saya didatengin orang” aneh lagi. Karena saya juga orang aneh jadi saya ikut mengobrol dengan mereka dan berujung pada obrolan pekerjaan. Salah satu obrolan seseorang dari mereka membuat saya tertarik mendengarnya. Dia bilang setiap hari kerjanya main PB, gak sia-sia, dan digaji pula. Yang sangat disayangkan kerjanya itu harus setiap hari dan nggak ada liburnya. Saya tetap mau karena PB itu rame.
Ah ternyata saya kecewa lagi. Yang dimaksud PB itu bukan Point Blank, tapi Pengganti Ban alias tukang tamal ban.
Terima kasih teman atas informasi tentang lowongan kerja!

Read More/Selengkapnya...