Hello, My name is Gilang Novanda. You can follow me on my twitter @gilangnovanda, Cheerrsss :D

Rabu, 19 Juni 2013

Renungan warkop

1937 saya sudah hadir d bumi.percayalah pada jaman itu saya sedang duduk d warung kopi memainkan smartphone,meski begitu saya belum bisa dipanggil profesor.lalu apa guna smartphone?kasian hpku yg lama,dia mungkin merasa cemburu d dlam kamar,karena yg selalu d bawa adalah hp yg ini.sebenarnya jika baterainya masih menunjukan semangat yg bergejolak,saya akan mmbwanya tiap hari.kini setelah batrenya hanya bertahan 2 jam dari full hingga habis,lebih baik saya menidurkannya di kasur yg setiap hari saya pakai untuk tidut dan malas malasan.itu tanda penghormatan saya padanya.agar ia merasa saya bukanlah kacang yg lupa kulitnya.
Sudah 1945,waktu berjalan begitu cepat,dimana katanya negara indonesia merdeka,bukti adanya  semangat memperjuangkan nusantara.mereka bersatu mengenyampingkan perbedaan.seharusnya itu adalah warisan yg paling berharga.kini tanah airnya sudah menjadi bangunan megah yg dikhususkan untuk orang orang tertentu,dan airnya yg bersih sangat  mudah didapat,kalau sedang beruntung.
Bisalah kau melihat mereka yg menjadi wakil rakyat terlihat mewah,rapi,dan difasilitasi banyak hal yg memuaskan keinginanya.namun rakyat utamanya yg bukan wakil,seperti lupa memiliki negara,sebab memenuhi kebutuhan primer sudah menghabiskan segala pikirannya.
Seharusnya wakil adalah yg mewakili,segala aspirasi dan suara rakyat.namun mereka simpan dulu dengan alasan lagi pewe.nnnti kalau kursinya terancam tergusur oleh pemilu priode berikutnya baru ingat,tapi siapa yg menjamin?
Ah sudah 2000 jam 8 malam, gut bye

Read More/Selengkapnya...

Jumat, 10 Mei 2013

Harmonika


Biarkan aku mencair bersama melodi harmonika, aku benar-benar merasakan jiwaku menyatu dalam gelora alunan nada yang ku mainkan. Ini bukan masalah keren, dengarlah musik ini kau harusnya tau apa yang saya rasakan, aku benar benar manusia yang memainkan musik. Bukan terdorong hal diluar itu. Cintaku tak bisa ku pendam yang entah kapan akan mati. Gimana mood ku saja.
Ini bukan soal kuantitas, tapi kualitas .
Ini bukan soal reputasi, tapi esensi.
Coba kalian dengarkan aku bermain musik, jelas akan acak kadut karena saya belum terlaluJ
bisa

Read More/Selengkapnya...

Selasa, 30 April 2013

tetap tenang


Tetap tenang, itu urusan orang lain. Kau hanya bertanggung jawab atas dirimu. Kekecewaan, kesalahan orang lain, sakit bagian kecil dari hidup, masa harus ku ingatkan lagi?
Harus ya? hahaha
Gilang novanda 

Read More/Selengkapnya...

Sabtu, 30 Maret 2013

hooaaammzzz ....

hoho hihi malam meninggalkan sunyi bersamaku di sini tak bisa menahan pikiran yang sedang menina bobokan keponakan keponakan kesayangan yang berisik kalau siang dan diam kalau tidur, entah apa di mimpinya, mingkin dapat mainan baru, gpp asal soleh ya hehe
saya juga mu tidur di hari terakhir bulan maert ini, menghilangkan cape yang dari tadi saya bangun sendiri, sekarang mau tidur setelah nntn bola streaming,selama saya nntn di internet club celsi ini ga pernah menang tapi saya penasaran semoga saja hari ini tidak, dadah selamat tidur juga ya, aku juga sebenarnya ehmm... sudah sudah semalamat tidur selamat mat mar

Read More/Selengkapnya...

Kamis, 28 Februari 2013

dunia


Dunia, kau biasa-biasa saja. Kau tidak kuat, tapi kenapa? meski, pemahaman saya terambil, ilmu saya terlupakan, pengalaman terhapus seiring hasil yang ada. Bagaimana tidak sedikit tipu daya dunia telah membuat saya lupa diri. tapi saya tidak kalah bung. hey kau, yang banyak komentar? apa yang kau lakukan? hanya bersenang-senang tak tau apa yang kau perbuat.
baca seluruhnya, baru simpulkan, 
Apalah kamu? Kau hanya cangcut bekas, orang lain suka, sebenrnya saya juga, tapi saya tahan untuk tidak mengikuti cangcut bekas itu. Semoga.

Liburan ini saya coba masukin tulisan menjadi bertumpuk hingga menjadi sebuah buku, tapi itu gagal lagi, mood saya menolak.

Melihat perpektif mereka sebenarnya saya pusing, bagaimana kelabilan saya harus ditempatkan. Saya terlalu melihat idola, sehingga mau tidak mau pemikiran saya terbentuk sepertinya. Saya tidak kecewa, dan menyesal, karena tahap itu sepertinya terlalu tinggi, dan orang seperti saya ini apakah mampu? Keyakinan yang saya miliki naik turun. Dan saya harus mengikhlaskannya. Juga tidak peduli.
“Keihlasan membiarkan diri tenang, pasrah membiarkan diri kalah,” yang katanya Pidibaiq seperti itu. Kalimat itu tidak sama, seinggat saya ajalah mirip-mirip. Tapi emang gitu, saya sudah revisi.
Dan kalimat yang saya ingat, “Di saat kunikmati hidup ini indah. Dan langsung pusing ketika aku pikirkan.”
Saya tanpa ijin mengambil katanya, padahal mungkin ia sudah lupa dengan saya saat kita bersalaman di cafe yang entah kapan saya ke sana lagi. Saya ada nopenya, tapi saya urung keinginan saya wawancara, karena
Tadinya saya mau nulis ini, tapi lupa. Jadi pindah topik aja biar ga pusing. Oh iya, saya juga menemukan artikel keren tapi saya lupa lagi. Jadi pindah topik lagi.
Oh iya saya baru inget, ini artiket tentang akal manusia. Saya sudah lamaaa sekali nggak baca. Gara-gara jejaring sosial saya membaca timeline dan beranda juga berita sepak bola, selain itu saya hanya membaca nomor rumah yang mau tidak mau harus saya baca waktu keluar rumah.
 Otak saya juga udah mulai beku. Kata-kata ilmiah yang pernah saya baca lama-lama dan saya hafalkan terkikis jadi lupa padahal saya kata itu sering muncul waktu debat politik. Yah, selain keren pake kata ilmiah, juga bisa membantu saya menjelaskan apa yang ingin saya jelaskan pada yang baca (saya) dan lagi melihat layar dan menulis ini.
Dan saya setuju kata Imam besar yang saya dengar di yutub, “masyarakat itu tempatnya salah. Ia menganggap thomas alva edison gila, tapi nyatanya mereka memakai hasilnya.”
Sudut pandangnya itu keren.
Lingkungan sibuk berpura-pura, oh cewek itu saya ingat kembali, sudah lah hati-hati di sana dan jaga diri, saya selalu menghargai keputusan akal sehatmu.  
Sebenerna aing teh nulis naon?
Diam ini membuat saya tidak produktif. Hidup saya enak. Sangat enak sehingga saya tidak harus melakukan apa-apa lagi, tapi tolong ingatan saya lagi, itu menipu. Saya harus bergerak.
Manusia diciptakan memiliki akal, seperti alat yang lainnya, itu tergantung yang menggunakan.
“Akal itu yang membuat manusia mulia.” Itu kata guru saya waktu SMA, tapi saya tambahkan. “tergantung orangnya juga.”
Itu sebuah alat yang bisa membantu dan menyusahkan. Itu bisa menyembuhkan atau membunuh. Seperti filsuf yang hebat-hebat itu, mereka dengan bangganya telah menemukan sesuatu, dan menganggap dirinya Tuhan. Itu malah membunuhnya.
Alloh telah memberi kita hati juga, Subhanallah.
 Meski kini saya jarang mengingat orang terpilih Tuhan untuk menyebarkan firmannya, hingga itu sampai kepada saya. Saya tak pernah ingin menganggapnya tidak ada, saya lebih tidak mau terseret arus globalisasi ini. Ketika orang-orang menjadi pintar dan maju. Mereka memang hebat dan mulai bertanya tentang orang yang mengajari kami sehingga menjadi beragama dengan pencapaian dalam logikanya. Bahkan mereka bertanya Tuhan.
Orang-orang bisa saja mengira bisa hidup tanpanya. Karena dunia terlah meluluhkan hatinya. Tapi mereka tidak tau apa-apa.
Saya tidak tau kebenaran tentang hal ini, saya golput. Kadang saya terpengaruh, tapi saya tak bisa hidup sendiri, dan menolak mereka. ini yang sedang saya tanyakan pada idola saya, semoga ia membalas pertanyaan saya. 
Saya kadang melihat, dan menilai, orang-orang selalu mengerjakan yang ia benci, mungkin salah, tapi itu yang saya tangkap. Dasar orang. Andai saya pokemon.
Itu nggak masalah ga. Biarkan saja.
Pengendalian diri. Setiap orang adalah Naruto, yang ditugasi menjinakan musang ekor 9 yang kita sebut nafsu. Tentang apa yang diberikan oleh Tuhan selama ini, di beri kaya kau akan bagaimana,diberi jabatan kau akan bagaimana, diberi pujian kau akan bagaimana?
Sejujurnya jalan lurus saya sering terbelok karena itu. Yang membuat kita sadar adalah cacian dan hina. Itu pait tapi obat.
Ini bukan tentang keberhasilan anda dengan apa yang anda sadari dari akal mu, tapi tentang seberapa goyah kau diuji ketika kau berpikir seperti itu.
Hasil yang kau peroleh mana mungkin kau dapatkan tanpa apa yang ia beri.
Ada sedikit kesombongan dan itu adalah musuh manusia. Dan saya termasuk juga. Meski orang kadang menyebut saya mirip tupai.
Musuh utama mu adalah dirimu sendiri, malah saya baru teringat kembali saat menulis ini. Padahal ini sudah ku sadari lama. Jika saya hidup sendiri dalam hutan saya tidak butuh uang, karena yang saya mau di sana tak perlu uang.
Tapi hidup di kota memang begini, terpaksa saya btuh uang. Dan hidup bersama orang yang dicintai, agar mereka tak hina karena sudah ku habiskan.
Tapi hidup dimana pun, sehebat apapun, selalu butuh Tuhan. Alasan yang kau terima sebenarnya tidak cukup membuktikan. Saya ditak ingin debat dengan orang yang berpikir dia selalu benar, dan ini juga bukan sebuah jawaban atau kau harus menerimanya. Jika tak suka abaikan da bukan untuk mematahkan pernyataan siapapun.
Ini bukan soal apa yang kau dapatkan, tapi bagaimana reaksimu setelah Tuhan memberi itu. Oleh karena itu berterima kasih lah pada Nabi mu yang sesungguhnya mengajari kau banyak-banyak yang kau tolak banyak-banyak. Karena kau hebat mau mencari sendiri.
Karena sesungguhnya ia telah dipandang “hina” oleh mereka, dan memakannya sendiri untuk kita. Dan kini habis lah hina, jangan kau campakan ia. Karena ia akan memakan “hina” mu lewat ajaranya. Sampai kau sadar. Begitu hebat Tuhan bisa menciptakan orang yang merasa hebat tapi jelas-jelas ia sendiri ciptaan Tuhan. Tapi ia malah menganggap dirinya Tuhan. Itu lah titik hina orang yang akan diberi tahu oleh waktu, ia tak akan tau. Tapi ia akan merasa dan kau butuh ajarannya. Karena itu agama selalu mengajarkan rendah hati sehebat apapun kita.
#radabeurat

Read More/Selengkapnya...

Kamis, 31 Januari 2013

Curahan hati seekor kecoa


Aku tak berharap dilakhirkan dan tinggal di kamar atau di wc mu. Kadang aku tak diperlakuakan sebagaimananya kecoa pada umumnya. Aku juga punya hati, Mas! Punya, Mas!
Kecoa itu menangis di dalam kepedihannya. Tolong mengertilah! Aku memiliki keluarga yang harus aku pikul. Jika aku mati di sapu harga lima ribu, nanti anakku makan apa? Mereka masih kecil dan memiliki cita-cita, menjadi kecoa yang sukses. Bisa terbang dan melayang dilangit. Aku sebagai orang tuanya pasti akan bangga dan bilang ke tetangga, “itu anakku! Itu anakku!” sambil ngambil cemilannya.
Mungkin kalian manusia bertanya-tanya mengapa aku diciptakan? Sehina itukah aku? Seekor kecoa? Yah, memang aku akui aku memang hitam, bau, bertempat tinggal di hotel bintang kejora. Di pengkolan got Pak Eman.
Maaf juga buat Mbak Tati yang sering aku kagetkan ketika mandi. Jika aku manusia, Mbak, aku akan memperjuangkan seluruh jiwa raga hanya untuk mu seorang. Meski kau sudah berumur 74 tahun.
Begitu melihat kaki seseorang, rasanya begitu nafsu ingin menggauli jempol itu, maka jangan heran kalau aku malah mendekati meski kau sudah menakuti dengan kaki kalian manusia. Percuma!
Terkadang para manusia itu senang ketika aku berlari keracunan terkena Hit, Forcemagic, shampo, atau bau cangcut yang kau beri hingga kaum ku tewas dengan terhormat. Kawan-kawanku yang sudah mati tak pernah malu. Ia mati terhormat. Namun pintaku satu, jangan jajan sembarangan. 

Read More/Selengkapnya...

Senin, 17 Desember 2012

besar adalah jalan satu-satunya


Sangat menyedihkan jika diam dalam kebenaran seperti ini. Tak ada anggaran yang dihasilkan sendiri, bukan ingin berkuasa, besar adalah satu jalan agar orang kecil yang merasa besar dengan apa yang ia kenakan tidak mengusik keluarga dan orang-orang yang saya sayangi. Terpaksa menjalani sistem berengsek negara yang harus dibela, bagiku sampah, tapi jika tidak ada pilihan, aku terpaksa harus menyatu bersama sampah. Tertawalah dalam kemewahan tolol yang kalian banggakan dari hasil merampas dan membodohi orang kecil. Lalu kalian berikan senyum fatamorgana yang cukup untuk menghasut mereka. Dalam pikiran mu sepertinya penuh dijejali ambisi dunia yang ingin kau taklukan dengan cara yang tidak keren. Dan Tuhan sepertinya kecewa pada kalian.
Karena itulah menjadi orang besar adalah jalan satu-satunya.
Semakin saya sadar bahwa nilai-nilai yang diajari Mama pada saat saya balita itu benar, dan itu tidak disetujui oleh sistem negara yang kapitalis liberalis, dengan keadaan seperti ini kebenaran itu tak akan dianggap, oleh karena itu menjadi besar adalah jalan satu-satunya.
Seharusnya yang benar adalah benar, yang salah adalah salah, jangan kau anggap kebenaran hanya milikmu dan menyalahkan orang yang tak bisa berbuat apapun saat kau salahkan. Karena itu menjadi besar adalah jalan satu-satunya.
Saya ingin hidup dalam kesederhanaan tanpa terkendala faktor finansial, karena itu menjadi besar adalah jalan satu-satunya.
Omong kosong, saya harus berkata itu dan kalian akan mendengarkan, dan orang-orang yang yang hidup dalam ketololan menikmati kekuasaannya dengan menghapus nilai-nilai kebenaran pada mereka dengan cara yang halus, karena itu menjadi besar adalah jalan satu-satunya.
Kalian bebas menjalani hidup seperti apa, tapi jangan usik kehidupan mereka.

Read More/Selengkapnya...