Hello, My name is Gilang Novanda. You can follow me on my twitter @gilangnovanda, Cheerrsss :D

Kamis, 21 Januari 2016

BAND

anak band
2012
band. hampir semua remaja menganggap bahwa menjadi pemain band adalah hal keren. begitu juga saya dulu. dan saat asumsi keren terhadap band itu memudar, saya masih punya band. yang nggak keren pastinya.

mau nggak mau harus terjebak bersama dua orang yang rasanya menyenangkan bisa bersama. kasian band kami, nggak punya nama. padahal band ini terbentuk pas kelas x sma. bukannya malas, kami semua coba mencari nama band menghubungkan  sesuai gendre musik yang kami mainkan. tapi itu susah karena band ini alirannya sesat. saya bingung mau ngasih nama apa. apa laknat band bagus?

tiap brifing atau latihan, paling ngebahasnya film porno, atau cerita cinta dirinya yang malah mencintai dirinya bukan aku. keluar dari pokok bagaimana kami seharusnya berkumpul untuk bermusik.

pada awalnya, band ini punya 4 personil. satu personel yang keluar adalah si hamdan, itu nama bapaknya, karena sering nyebut nama bapak saya juga sih. dia keluar karena nggak kuat karena band ini nggak ada kenaikan gengsi. saya nggak akan menuntut kegengsian itu karena bukan bbm subsidi.
soal prestasi, band kami cukup prestisius. ini serius. saya sendiri mengklaim bahwa band saya ini terbaik di sekolah kami dulu. ya kali. kalo emang bukan, berarti saya ngaku-ngaku.

kami kalau bawain lagu barat suka dicampur bahasa sunda.
tujuan band kami cukup sederhana, yaitu menghancurkan dunia. serta menjaga aliran dana transparan saat patungan membayar studio. tidak ada penipuan, korupsi, nepotisme, gratifikasi, dan lain-lain. kami bersih.
mari kita kenalan dengan personil yang bikin kalian nggak penasaran .
sebagai vocalis saya ditakdirkan untuk fals. sekaligus rytem yang suka lupa grif. kita tampilkan... saya sendiri. mohon tepuk tangannya jangan banyak-banyak.
ada rusdi jadi gitaris. dulu dia megang bas. tapi karena kepergian hamdan yang sebelumnya jadi gitaris, dia mengisi kekosongan itu. tapi posisi dirinya dihatinya belum ada yang mengganti.
ada oki di drum. disimpan paling belakang kalau di panggung. atau jangan ada di panggung lah. nyempitin.
suatu  hari saya diajak ngejam sama band yang alirannya lagi ngetrend saat itu, aliran screamo gitu. sebut saja namanya saur emak band.
si rusdi tanpa pikir panjang langsung bilang “hajar-hajar weh.” saya dengan biasa-biasa saja juga bilang, “hayu wae.” si oki juga bilang, “insya allah.”
dengan lumayan suka latihan, saya yakin nggak akan malu-maluin. meski cuma latihan bareng sama band temen tetap harus maksimal. setidaknya bisa menunjukan siapa kami menjadi kepuasan tersendiri.
menjelang latihan, oki tiba-tiba tidak bisa ikut. kami tanpa drumer seperti burung tanpa sayap. namun itu sudah terlanjur diboking. sayang dengan uang dp yang hangus kalau dilewatkan.
dengan gentle, saya dan rusdi dan bas, temen rumah, dan songok, temen sma, tetap menghadiri latihan itu.
saat masuk studio, saur emak yang membawakan lagu andalannya. dengan aliran metalnya studio band dibuat mencekam. lagu teriak-teriakan oa oi.grrrrr.hhmmmm. yang saya dengar liriknya gitu.
begitu juga dengan lagu kedua dari saur emak band, studio kembali dibuat mencekam. saya tidak menyimak lagu kedua dari band itu karena fokus main game snake di hp.
setelah selesai, para personil saur emak meninggalkan tempatnya dan mempersilahkan band kami yang tanpa nama untuk segera latihan. karena oki tak bisa hadir dengan terpaksa, saya yang mengisi posisi drum.
saya jadi ingat band kelas pas sma kelas 2. saya diposisikan sebagai drumer. hapid jadi vocalis, paris jadi basis, norman dan tia jadi gitaris. nama bandnya waktu itu cts 13. band tersebut adalah menunjukan sisi akrobatik saat manggung. contohnya saat pertama kali. maksudnya yang pertama dan terakhir cts 13 manggung banyak momen-momen yang bisa diambil hikmahnya.
waktu itu saya berhasil menghancurkan musik. semua berhenti pas saya menjatuhkan simbal. stik drum ikut terlempar. musik berhenti. dan semua personil tertuju pada saya. saya mengisaratkan untuk terus bermain. jangan berhenti nanti saya masuk lagi ke musiknya. semuanya malah diem.
musik cts 13 cukup variatif. dari semua personil nggak ada yang nyambung. si norman, tia, paris gripnya beda-beda nggak tau kemana. si hapid nggak peduli musik yang penting nyanyi.
dan alhamdulilah ada satu penonton setia yang mendengarkan musik kami dari awal hingga selesai. tapi kami semua tau penonton yang satu itu lagi nggak sadar.
sudah lupakan. kini saya harus kembali main drum. pasti akan sangat kaku.
“lagu apa?” tanya saya ke rusdi.
“3 titik hitam.” jawabnya.
“emang saya bisa?” tanya saya lagi.
rusdi bingung “eh, udah biarin.” saya tetap bermain drum. sedangkan songok menjadi basis dan bas menjadi gitaris.
lagu dimulai. rusdi memainkan gitarnya. songok masuk dengan basnya. juga bas mulai mengiringi dengan gitarnya. saya mencoba masuk. intro pertama oke. saat saya mencoba masuk ke bagian reff musik hancur dengan sendirinya.
saya sudah mencoba yang terbaik. tapi ini terbaik. yaitu dengan menghentikan lagu. musik acak kadut di tengah.
bas tiba-tiba ijin keluar studio dengan alasan ada yang telepon, padahal dia malu. 
nggak sampai satu lagu, kami memberikan lagi alat musik kepada saur emak band. kami mengantisipasi agar dunia tidak jadi hancur. saya nyengir ke rusdi dan songok. mereka tertawa geli.
band saur emak merasa diatas angin. mereka seperti punya segalanya diandingkan dengan band tanpa nama ini. saya berharap si oki datang. ceritanya nggak akan gini. mungkin bisa mengatasi kehancuran dunia. bas tak pernah masuk lagi. sepertinya dia sedang ditelepon mamahnya, papahnya, bibinya, uncle-nya dari garut. lama sekali menerima telepon.
lalu kami tetap melanjutkan lagu. dengan aliran regee. dan masih acak kadu pula. besok-besok kalau oki datang, kami benar-benar akan menghancurkan dunia dengan band kami. maksudnya band kami akan membawakan lagu yang hancur.
saya tidak peduli dengan reputasi. tapi bisa bermain musik bersama teman-teman akan sangat menyenangkan. dan kami akan menghancurkan dunia dengan musik. minimal menghancurkan harapan kami untuk tidak bisa menghancurkan dunia.

Read More/Selengkapnya...

Sabtu, 02 Januari 2016

PANAS

panas.
aku menyalakan kipas angin berdiri yang sering terjatuh. mungkin karena hawasi membelinya dengan harga yang murah.
di sini berbeda dengan tempat tniggalku. disini panas sehingga setiap malam aku selalu menyalakan kipas angin yang tak pernah aku pakai sebelumnya di bandung.
ini adalah pengalaman baruku sebagai anak rantauan. pertamakali ngkos & bekerja. jika aku boleh jujur proses mengembangkan diri ini sangatlah lamban. mungkin karena aku sangat ulit untuk mengubah kebiasaanku selama tijnggal dibandung.
sebelumnya aku numpang di rumah kakak ku. tak ada masalah. yap ada masalah kecil yang menggunung. yaitu  sulit keluar dari kebiasaankusebelumnya. bermalas-malasan.
 dimana aku berharap setelah aku pergi merantau. aku benar-benar hijrah dari semua kebiasaan burukku. memang terlalu banyak hal yang harus aku ubah. memang tidak mudah. tapi bukan berarti tidak bisa.
selama ini aku selalu menjadi orang yang itu-itu saja. melakukan rutinitas yang biasa-biasa saja. apa yang terjadi selama ini membuat aku dapat memprediksi dari apa yang terjadi pada kejadian sebelumnya.
entah, aku ingin berbagi kembali. lebih jujur. lebih berani. maksudnya lebih mau menunjukan dan menerima bahwa aku hingga saat inin masih seorang pecundang. setidaknya itu lebih baik dari menutup-nutupi bahwa aku adalah orang yang hebat.
padahal banyak orang yang aku merasa lebih pecundang daripadaku.  tapi itu terserah mereka. aku memang benar-benar seorang pecundang.
banyak hal yang bisa aku dapatkan sebenarnya. tapi hatiku merasa bersalah, akarena aku merasa telah membohongi diri sendiri.
ada kalanya ketika aku merasa dicintai. aku merasa sebuah subjek dari sebuah objek. aku manusia yang memiliki ruh. passion. yang merasa cukup untuk menggerakan jiwa.
ternyata mereka adalah orang-orang yang sederhana. dan aku tidak malu mengakui bahwa aku seorang pecundang. tak ada jawaban. hanya berjalan beriringan dan saling menemani sepanjang jalan.
banyak orang-orang hebat diluar sana. aku bisa bergaya seperti halnya mereka. tapi mereka tau bahwa keindahan kita berbeda.
bukanya aku tak bisa, tapi hatiku merasa tak suka. aku coba suka, tapi aku menolak diriku yang seperti itu.
aku sangat menghargai orang yang juga sama menghargai aku. biarpun mereka merasa seorang pecundang. tidak peduli sebesar apa seorang itu, jika tidak dapat menghargai, aku merasa dia tidak berhak merasa lebih baik dari seorang pecundang.
orang-orang itu tidak melihatku didalam kamar. dalam usahaku yang setengah-setengah ini. entah sekuat apa aku berusaha, usahaku memang tidaklah cerdas.
untuk orang yang melakuakan segalanya sendiri, aku harusnya agak memaklumi aku sendiri. tapi, terserah, aku tidak tahu. aku hanya terus dan terus mencoba. biarpun segudang kegagalan ini menjadikan aku tidak mengerti sebenarnya apa itu gagal.
aku merasa rindu. perasaan rindu akan aliran hasrat yang menggerakan tubuhku pada tujuan merabah pembelajaran. terus dan terus sampai torsi langkah awal yang berat berputar mengikuti alunan ritme yang menggerakan kayuhan hidup.
kadang-kadang bingung kemana. tapi, ayunan itu terus berayun kuat menggerakanku ku ke tempat lain. entah kemana, ku merasa ditengah perjalanan ini adalah tujuanku padahal aku tidak tahu kemana tujuanku.

tuhan bolehkah aku terharu, terharu karena kekuatanmu yang kau berikan sepercik dan tidak apa apanya ini mampu menggetarkan hatiku. aku. mereka adalah aku. semuanya adalah aku yang seutuhnya. sejutakasih, bertriliyunkasih, aku kasih.

Read More/Selengkapnya...

Rabu, 02 Desember 2015

GARA-GARA GANTENG GANTENG SRIGALA

Setelah memberiskan kosan, aku bergegas membeli kopi lantaran stok kopiku habis. Seharus nya masih ada satu lagi, tapi si Hawasi tak sengaja menumphkakan kopiku kemarin. Saya memutuskan untuk pergi ke warung berjalan kaki meskipun jarak warung dari kosan agak jauh. Sebenarnya saya nggak tau dimana warung terdekat disini. Nggak apa-apa karena hari ini libur. Keep woles and keep tamfan.

Beberapa rintik hujan sudah turun namun tidak banyak. Langit sepertinya ragu untuk membasahi bumi. Klakson motor mengingatkan saya yang jalan terlalu tengah. Saya melihat pengendara motor itu. Ternyata anak berseragam SD. Pake helm besar. Logor. Kaya toge.

Saya melintasi satu sekolah dasar dimana bergelombol anak SD yang baru bubar sekolah. Tak jauh dari sana, akhirnya saya menemukan warung. Di depannya pun banyak bergerombol anak-anak SD yang nongkrong disana. Salah satu anak lelaki di gerombolan itu meneteskan air mata. Ah, paling juga ee di celana. Karena jaman saya SD, anak nangis itu kalau tidak dimarahi guru paling e’e di celana. Rasa penasaran terpanggil setelah salah satu temannya bicara agak keras, “jangan nangis.” Setelah teman-temannya tahu, anak-anak SD yang ada di sektar sekolah SD ikut bergerombol di warung.

Anak itu duduk di tangga warung sambil tertunduk. Kedua tangannya saling bertemu disela-selajarinya. Anak itu sedang merenungi sesuatu.
Saya harus bilang permisi karena tangga warung penuh diduduki anak-anak SD itu. Saya tak lantas membeli kopi, tapi menunggu jawaban rasa penasaran pada anak itu.
“Jangan nangis dong, masih banyak cewek didunia ini.”


 Dalam hati saya lantas berkata, “Anying.” "Ai kamu." Dan langsung membeli kopi. Medsos saya sepertinya akan dipenuhi quote quote lagi. Ini yang salah siapa? Disaat jaman saya, anak-anak sebesar itu kesibukannya adalah main layangan, kelereng, dan tazoz. Sekarang anak-anak pikirannya teralihkan memikirkan problema asmara terinspirasi drama cinta 300 episode. 
Dek, nanti kamu akan mengerti kalau perempuan itu selalu benar.

Ini pasti gara-gara ganteng-ganteng Srigala.

Read More/Selengkapnya...

Sabtu, 20 Juni 2015

Perahu Kertas

Aku sempat menyesal jadi orang malas. Aku menyesal. Hingga akhirnya aku terdampar di tempat akademis perguruan tinggi swasta yang sebelunya tak pernah ku bayangkan. Sebenarnya aku tidak penah membayangkan tempat dimana aku berkuliah. Itu tak pernah terbayangkan.
Aku tak paham betul menyadari apa yang aku senangi. Karena aku jarang mendapat respon dari orang lain tentang apa yang aku senangi. Itu seperti melukis di udara. Hasil dari apa yang telah aku kerjakan tak terlihat.
Aku sering dibiarkan sendiri. Aku berlindung di Sekoci yang terpontang-panting dalam gelombang besar. Setiap waktu selalu mengancam diriku. Kepalalku selalu pusing dibuatnya.
Seperti tak ada yang mengajariku kecuali dari setiap kesalahan yang ku perbuat setiap waktu. Selalu ada hukuman, selalu ada luka, namun dari semua itu, akan selalu ada obatnya.
Banyak yang bilang, saat harus bekerja itu berat. Itu harus selalu dilakukan setiap hari. Papahku berkata, dulu, waktu ia kecil, waktunya sering terpakai untuk bekerja. Mengangkat hasil kebun, mengangkat kayu, dan melakukan pekerjaan lainnya.
Dan kini aku menjadi anaknya, tidak ada cerita angkat-mengangkat seperti yang Papahku lakukan dulu. Aku menikmati segala hasil jerih payah orang tuaku. Dan itu sangat enak. Tapi, aku memiliki perjuangan yang tidak kalah beratnya. Memang aku tak pernah harus bekerja keras seperti itu, tapi bagiku, menyadarkan diri akan kenikmatan ini adalah perjugangan yang tidak kalah beratnya.
Ini lucu, kadang berat mataku untuk diangkat dari ketiadaan pekerjaan yang mendesak. Kadang berat keluar dari bisikan kenikmatan yang menyuruhku untuk selalu diam dan tak belajar. Bisikan-bisikan untuk bermain game dan internetan itu adalah bisikan paling berat untuk dihiraukan.
Aku baru saja bermimpi, maksudku, benar-benar mimpi dari tidur. Aku berada di reuni SD, SMA, dan Kuliah dalam satu ruang dan waktu.
Itu mimpi aneh. Seaneh apapun mimpi, dalam mimpi kita menganggap itu biasa. Tapi saat bangun, baru kita sadar mimpi itu tidak logis.

Masa terbaik dalam hidup adalah saat belajar. Anehnya, hidup akan terus belajar. Dimana ia mengenalkanku pada banyak hal, mempertemukanku pada hal baru, memberiku pelukan hangat, membawaku pada teman-teman.
Aku melihat Aswin, Diki, teman teman SD juga, Yayan eko, Pawit, tapi yang tak pernah aku lupakan,

Kecenganku yang sudah menikah, melihat aksiku, melihat apa yang saya lakukan untuk mendapatkan dia.

Read More/Selengkapnya...

Kamis, 18 Desember 2014

Rumus wae bari jeung eweuh hartina

"Rumus wae bari jeung eweuh hartina"

Petikan syair berirama berjudul "yeuh" dari panas dalam karya pidibaiq tersebut membeberkan realitas bahwa hidup tidak perlu memakai rumus yg tidak berarti.
Sekolah dan perkuliahan selalu menjejali kita rumus selama berlangsungnya pelajaran di dalam sekolah. Tapi kebanyakan dari itu, setelah keluar dari ruang sekolah, rumus itu selalu dilupakan. Orang2 selalu kembali menggunakan pengalamannya yg bebas untuk kehidupannya,
Rumus itu memang tidak berarti banyak karena tidak terjadi langsung pada kita,

Kamu dapat apa dari pelajaran kampus?

semua sia2 seperti belajar di tempat formil, saat lulus semua kembali ketitik nol, perlu belajar lagi dari awal mengarungi kehidupan yg baru,

Ranah sekolah dan ranah kehidupan berada dalam tempat beda yg sukar bersatu,
Teori2 itu kadang tidak mengajari sesuatu dalam kehidupan,
Bahwa kata2 itu hanya sebuah kiasan indah untuk mengisi pelajaran kami,
Kami dipaksa menyukai itu,kalau tidak kami tidak naik kelas.dan org2 bodoh dengan sendirinya membentuk mentalnya sendiri agar lebih kuat dari tatapan sinis pihak akademis. Bisa juga menciptakan kelompok oposisi.

Semua Selalu berbicara nilai akhir, rangking, kami salah tidak bisa mengahafal rumus2 itu, kami salah untuk ingin mengikuti apa yg kami suka, kami disalahkan orang tua karena memiliki nilai jelek,
Namun aku juga mengikuti ulangan, aku juga tau bagaimana org2 mendapatkan nilai itu, memang ada yg bagus karena hafalannya, ada juga yg bagus mengelabui penjaga, tapi mereka tidak pernah menghargai kejujuran kami,kami tetap salah dan kami dipandang sebelah mata,
Jangan heran kini negara kami dikuasai org2 yg cuma bisa menghafal jawaban untuk memberikan klarifikasi dan org2 yg hebat mengelabui.

kami kuliah itu untuk mendapatkan siapa diri kami, menetapkan bagaimana sudut pandang kami, menciptakan etika hingga sikap kami, bukan jadi org2 kategori perusahaan2 besar.

aku tidak pernah menyesal masuk jurusan diperkuliahan ini, sebabnya adalah aku menemukan aku sebagai aku.bukan bisa menghafal rumus.

Dan kecewa karena harus mengalah pada sistem, aku harus mengikuti apa yg mereka mau, sehingga semuanya menjadi sia2.
Padahal kamu bisa mencptkan produk kamu sendiri, tapi mereka ingin tetap aku tunduk dan patuh pada satu sistem.
Dan pendidikan akan menjadi sia2 dan eweuh hartina seperti sebait lagi dari panas dalam, tidak ada artinya.

Kami harus menjalani apa yg tidak kami percayai. Harusnya itu bisa teratasi.

Dan kita kembali kepada teori jaman dulu, seperti yg Charles darwin katakan, ada 3 kemungkinan dalam menghadapi kehidupan ini, 1. adaptasi, 2. imigrasi 3.mati

Read More/Selengkapnya...

Sabtu, 05 Juli 2014

Read More/Selengkapnya...

Selasa, 25 Maret 2014

MAHASISWA


Mahasiswa
2010
Saya bersama teman SMA saya, Norman, menyusuri Bandung untuk mencari informasi mengenai Universitas yang ada di kota ini. Saya sudah lulus tanpa meninggalkan masalah di sekolah. Selama SMA saya tidak pernah menjadi terosis atau anggota Illuminati. Saya bersih dan kini tinggal mencari tempat yang cocok untuk melanjutkan pendidikan.
Banyak yang bilang, ngambil jurusan komputer aja, soalnya nantinya gampang kemana-mana. Salah! Malah ribet kalau kemana-mana bawa komputer. Berat.
Saya mengambil brosur dari beberapa Universitas negeri ternama di Bandung. Cie. Padahal saya nggak yakin bakalan diterima di Universitas negeri manapun di jagad semesta alam.
Saya mencari jurusan sastra indonesia tapi nggak nemu. Saya waktu itu nyarinya di ITB. Mana ada tehnik belajar sastra? Saya baru sadar pas setelah itu. Untung nggak nanya ke satpam. Si Norman lagi ngangguk-ngangguk aja pas diajak.
Sebenarnya saya pengen merantau. Singgah di Kota orang. Merasakan bagaimana merindukan kampung halaman nantinya. Tapi percuma, saya nggak mungkin merindukan kampung halaman. Soalnya saya tinggal di Kota. Mungkin saya akan merindukan Kota halaman.
Mamah tidak setuju dengan usulan saya itu. Daripada dilempar piring, saya akhiri perdebatan dan memutuskan kuliah di Kota kelahiran saya, Kota Kembang, yang sebenarnya kembangnya tinggal sedikit tertipa gedung-gedung besar. Macet lagi.
Salah satu gedung besar yang saya ceritakan tadi kini menatap saya dari pinggir jalan setelah saya memarkirkan motor di jalan Dipatiukur. Saya mengunci motor dan mengunci stang. Saya enggan memanjakan maling. Hidup perlu ada usaha sedikit, Ling.
“Man, kita sudah besar.” Kata saya merangkul Norman sambil berjalan menuju universitas swasta itu. Norman hanya mengangguk. Mungkin dia merasa masih kecil.
Kami berdua masuk ke lobi dan mengabil brosur Universitas itu di meja panitia. Eh, bukan panitia, tapi sekertariat. Entah kenapa, feeling saya berkata bakalan masuk Universitas swasta ini meskipun hasil SNMPTN belum diumumkan.
Pas ujian SNMPTN, Saya ngambil ujian soal IPA. Pilihan jurusan di soal IPA pusing-pusing. Pilihannya jurusannya, matematika, kimia, fisika, pertanian dan lain-lain. Saya ngambil Psikolog UNPAD dan Ilmu Komputer UPI. Saya kurang tau kalau Psikolog di UNPAD itu bagus kata orang-orang. Dikirain gampang masuknya. Jadi saya sangat percaya diri kalau saya akan gagal di SNMPTN.
Setalah mengambil brosur, kami berdua kembali ke tempat parkir untuk mengambil motor. Saya melihat tukang batagor gerobak pinggir jalan dan mengajak Norman membeli batagor disana. 
Kami berdua duduk di trotoar dan memesan ke Tukang batagor yang keliatan senang. Batagor yang dijualnya ada dua jenis, batagor kuah dan kering. Saya memesan batagor Kuah, Norman memesan batagor kering.
“Man, jangan mesen batagor kering. Rugi.” Kata saya berbisik.
Norman menengok. “Kenapa?”
“Liat aja nanti.”
Dua mangkok batagor datang. Kami berdua melahap batagor sesuai pesanan. Norman semangat memakan batagor dengan bumbu keringnya. Sedangkan saya menghabiskan kuah tanpa memakan batagornya. Pas batagor Norman habis, batagor saya masih utuh.
Saya berdiri dari duduk, “Mang, minta bumbu keringnya ya.” Tukang batagor itu mengangguk. Saya menuangkan bumbu kering pada batagor yang masih utuh. Lalu duduk lagi di sebelah Norman.
“Man, kemana batagor kamu? Kenapa udah abis lagi?” saya nyengir.
Norman ketawa sambil geleng-geleng kepala, “Kamu bener-bener.”
“Kata saya juga apa, rugi kan? Saya mah dapet dua rasa, satu biaya.” Saya nyengir sambil memakan batagor dengan bumbu kering yang enak.
Malam harinya, hasil SNMPTN diumumkan. Kakak saya yang nganggur satu tahun sehingga jadi seangkatan dengan saya diterima SNMPTN UPI sastra jepang. Pas saya buka Nomor peserta SNMPTN saya, seperti yang sudah-sudah. Saya gagal masuk pendidikan akademis negeri. Baik SMP, SMA, dan Kuliah.
Saya sedih. Kapan giliran saya masuk negeri? Saya membuka FB, jejaring sosial utama saat itu, saya mendapati berita kalau teman-teman juga masuk Universitas negeri pilihannya. Bahkan Norman masuk sastra Perancis di UPI.
Saat itu saya masih remaja. Pikiran saya sangatlah pendek. Kenapa Tuhan selalu menunjuk saya gagal? Kapan giliran saya? Sempat kepikiran untuk kerja dulu dan menunda penididikan saking kecewanya. Tapi pada akhirnya saya harus mau menerima berkampus di swasta yang dianggap dibawah universitas negeri oleh masyarakat.
*****
Kini saya harus kembali. Kejalan itu. Jalan beraspal yang dipinggirnya banyak motor parkir liar. Saya parkir disana karena saya percaya saya mampu menjinakan lagi motor saya.
Saya kembali ke tukang batagor itu. Saya bisa saja menyalahkannya. Gara-gara makan batagor dua rasa satu biaya, saya jadi gagal masuk universitas negeri. Tapi sudahlah, saya sekarang masuk universitas ini. Dengan Cucu. Dia adalah teman SMA saya yang tidak saya kenali waktu SMA.
Alhamdulilah, saya diterima di Universitas Swasta, yang... hmm... no comment. Untuk memuji universitas saya sih jarang-jarang. Perguruan tinggi ini dengan senang hati menerima saya sebagai mahasiswa setelah membayar uang pendaftaran. Tanpa uang pendaftaran, entahlah.
Asalnya saya mengambil jurusan komputer, tapi saya batalkan dan memilih jurusan ilmu komunikasi. Saya berkonsultasi ke Ahmad, tetangga saya, jurusan Ilmu komunikasi itu belajarnya apa saja? Katanya, nggak ada pelajaran matematika. Yap, itu adalah penjelasan yang mampu mengubah haluan dari jurusan management informatika menjadi ilmu komunikasi. Karena nggak ada itungannya. Enak.
Saya datang sore hari untuk mengikuti mata kuliah kedua di hari pertama masuk kuliah. Tadi pagi sudah masuk mata kuliah dan mata kuliah ke dua di lanjut sore ini. Saya belum ketemu siapa pun. Maksudnya teman-teman baru. Karena Cucu tadi langsung mengajak saya pulang.
Saya berjalan sendiri dari parkiran menuju ruang seminar. Di jadwal tercatat pelajaran sekarang digelar di ruang itu. Entah dimana ruangan itu yang penting saya kumpul dulu di depan ruang sekjur. Biasanya sebelum masuk kelas, mahasiswa baru pada kumpul di depan sekjur.
Dan benar, ada beberapa anak-anak kelas IK-3, teman sekelas saya yang sebenarnya saya kenali selewat tadi pagi. Sebagai orang baru, saya linglung mencoba mencari tempat menunggu yang tenang.
Saya mendapati dua orang yang sedang duduk di batasan teras sekjur dengan halaman parkir terbuat dari papingblok. Mereka berdua tersenyum menyambut kedatangan saya. Tangan kami bersalaman bergantian dan saling mengenalkan nama, “Ade.” Pria botak yang saya salamin pertama. Dia tersenyum ramah. Model rambutnya sama kayak saya. Meski nggak ada ospek, saya digunduli. Mengantisipasi cewek-cewek pada ngeceng.
 “Panggil aja, Cupeng.” Kata pria stelan hitam-hitam yang saat bersalaman itu. Saya ingat percis dua orang pertama yang saya salami di kampus ini.
Dan bertanda apa? Ya bertanda bahwa kami mahasiswa dong. Nggak berapa lama, dosen memberi tahu masuk kelas dan para mahasiswa juga ikut masuk kelas.

Read More/Selengkapnya...